Hiu Paus Talisayan menjadi salah satu daya tarik wisata bahari paling unik di kawasan Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Berbeda dari destinasi bahari lain yang mengandalkan terumbu karang atau pantai pasir putih, Talisayan menawarkan pengalaman langka: berenang berdampingan dengan hiu paus atau whale shark, ikan terbesar di dunia, di alam liar tanpa sangkar maupun kolam buatan.
Bagi wisatawan yang sedang merencanakan wisata ke Derawan, menyempatkan diri singgah ke perairan Talisayan untuk bertemu hiu paus bisa menjadi pengalaman puncak yang melengkapi perjalanan snorkeling dan island hopping di Kepulauan Derawan. Artikel ini akan membahas tuntas asal-usul kemunculan hiu paus di Talisayan, cara aman melihat dan berenang bersama mereka, aturan interaksi yang wajib dipatuhi, hingga cara menggabungkan kunjungan ini dengan paket wisata Derawan.
Apa Itu Hiu Paus dan Kenapa Talisayan Begitu Istimewa
Hiu paus (Rhincodon typus) adalah spesies ikan terbesar yang masih hidup di lautan saat ini. Meski memiliki ukuran tubuh raksasa, hiu paus bukanlah predator ganas seperti kebanyakan jenis hiu lainnya. Ia termasuk hewan filter feeder, yaitu makan dengan cara menyaring plankton dan ikan-ikan kecil dari air laut, sehingga tergolong sangat jinak dan tidak berbahaya bagi manusia.
Keistimewaan Talisayan terletak pada fakta bahwa kawasan ini menjadi salah satu dari sedikit titik di Indonesia, selain Teluk Cenderawasih di Papua, di mana hiu paus bisa dijumpai secara relatif konsisten berkat keberadaan bagan (platform nelayan terapung). Kombinasi lokasi yang berdekatan dengan Kepulauan Derawan menjadikan Talisayan destinasi pelengkap yang sempurna bagi wisatawan yang sudah datang untuk snorkeling maupun diving di Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki.
Sejarah Kemunculan Hiu Paus di Perairan Talisayan
Kemunculan hiu paus di perairan Talisayan, Kabupaten Berau, sebenarnya sudah diketahui oleh nelayan setempat sejak tahun 1990-an ketika mereka tengah melaut. Masyarakat lokal bahkan memiliki sebutan tersendiri untuk hewan raksasa ini, yaitu “karitan tok’ke”. Namun, informasi mengenai keberadaan hiu paus di Talisayan baru mulai menyebar luas dan menarik perhatian dunia konservasi sekitar tahun 2013, seiring semakin populernya isu hiu paus di Kalimantan lewat pemberitaan media sosial.
Frekuensi kemunculan hiu paus di Talisayan tercatat semakin meningkat sejalan dengan makin banyaknya penggunaan bagan oleh nelayan di perairan Talisayan dan Derawan sejak dekade 2010-an. Pada September 2014, Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Berau, Universitas Mulawarman, dan WWF Indonesia melakukan survei identifikasi pertama di perairan Talisayan dan berhasil mendata 10 ekor hiu paus, terdiri dari 9 ekor jantan dan 1 ekor betina dengan ukuran berkisar 2 hingga 7 meter. Survei lanjutan yang dilakukan pada Agustus 2015 oleh BPSPL Pontianak bersama sejumlah lembaga lain, termasuk Institut Pertanian Bogor, Conservation International Indonesia, dan Whale Shark Indonesia, berhasil menambah temuan 16 ekor jantan dan 1 ekor betina baru. Total individu hiu paus yang telah teridentifikasi di Talisayan pada saat itu mencapai sekitar 27 ekor, dengan rincian 25 ekor jantan dan 2 ekor betina, berukuran sekitar 3 hingga 7 meter. Mayoritas individu yang ditemukan tergolong remaja atau belum dewasa, sebuah pola yang juga ditemukan di lokasi kemunculan hiu paus lain seperti Teluk Cenderawasih di Papua Barat dan Ningaloo Reef di Australia. Sebagai spesies yang dilindungi penuh berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan (KEPMEN KP) Nomor 18 Tahun 2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus, keberadaan hiu paus di Talisayan kini menjadi aset konservasi sekaligus potensi wisata bahari yang terus dikembangkan oleh pemerintah daerah dan berbagai lembaga penelitian.
Kenapa Hiu Paus Berkumpul di Sekitar Bagan Talisayan
Salah satu hal menarik dari fenomena hiu paus di Talisayan adalah keterkaitannya dengan aktivitas bagan, yaitu platform terapung yang digunakan nelayan setempat untuk menangkap ikan menggunakan cahaya lampu di malam hari. Cahaya lampu bagan menarik perhatian ikan-ikan kecil dan plankton untuk berkumpul di sekitar area tersebut. Kondisi ini secara tidak langsung turut mengundang hiu paus untuk mendekat, karena mereka mencari sumber makanan berupa ikan kecil dan plankton yang melimpah di sekitar bagan.
Pola serupa juga ditemukan di lokasi kemunculan hiu paus lain di Indonesia, seperti di perairan Kwatisore, Teluk Cenderawasih, di mana peluang kemunculan hiu paus tercatat berkaitan erat dengan aktivitas perikanan bagan setempat. Karena keterikatan dengan aktivitas bagan inilah, kunjungan wisatawan untuk melihat hiu paus di Talisayan umumnya dilakukan dengan mendekati area bagan nelayan yang sudah dikenal sering didatangi hiu paus, didampingi oleh pemandu lokal yang memahami pola pergerakan mereka.